Percobaan KOLORIMETRI

Laporan Praktikum Biokimia

PERCOBAAN I

KOLORIMETRI

NAMA         : SURYA APRIANI

STAMBUK     : NH 01 06 110

KELOMPOK    : I (SATU)

LABORATORIUM BIOKIMIA

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2008


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. LATAR BELAKANG

Metode kalorimetri dan spektrofotometri merupakan salah satu metode yang penting dalam analisa kuantitatif. Kedua metode ini didasarkan atas penyerapan cahaya tampak dan energi radiasi lain oleh suatu larutan, jumlah radiasi yang diserap berbanding lurus dengan dengan konsentrasi zat yang konsentrasi dalam larutan. Analisa kalorimetri adalah penentuan kuantitatif suatu zat berwarna dari kemampuannya untuk menyerap cahaya.  Intensitas/kepekatan warna tersebut diukur dengan warna yang pekat terhadap impuls cahaya  yaitu foto sel. Foto sel akan menyebabkan perubahan potensial   bila diberi impuls cahaya yaitu cahaya tergantung pada konsentarasi  zat dalam larutan  yang menyerap  cahaya tersebut. Cahaya monokromatis merupakan cahaya satu warna yang mempunyai satu panjang gelombang. Hubungan antara konsentrasi dengan cahaya yang diserap  dinyatakan dalam hukum Beer – Lambert.

  1. B. TUJUAN
    1. Menentukan serapan maksimum suatu larutan pada panjang gelombang tertentu.
    2. Membuktikan Hukum Beer – Lambert, di tuangkan dalam bentuk kurva.
    3. Menentukan kadar zat dalam larutan

C. JENIS PERCOBAAN

  1. 1. Penentuan Panjang Gelombang Yang Menunjukkan  Serapan Maksimum

Dasar :

Setiap zat menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu.

Alat Dan  Bahan Pereaksi :

  1. Tabung reaksi ( buret )
  2. Rak tabung
  3. Spektrofotometer Spektronik- 21
  4. Pipet ukur
  5. Pipet volumetric
  6. Larutan Kobal – Nitrat 1 %
  7. Aquadest

2.  Hubungan Serapan Dengan Kadar Zat Dalam Larutan  (Hukum Beer –  Lambert).

Dasar :

Jumlah cahaya yang di serap  oleh suatu zat  pada panjang gelombang tertentu  sebanding dengan kadar zat  tersebut dalam larutan .

Alat Dan Bahan Pereaksi :

  1. Tabung reaksi ( buret )
  2. Rak tabung
  3. Spektrofotometer spektronik- 21
  4. Pipet ukur
  5. Pipet volumetric
  6. Larutan kobal – nitrat 0,5 %, 1%, 1,5%, 2%, 3%.
  7. Aquadest

3.   Penentuan Kadar Suatu Zat Dalam Larutan.

Dasar :

Kadar suatu zat dalam larutan dapat diketahui dengan membandingkannya dengan kadar standar pada kurva standar.

Alat Dan Bahan Pereaksi :

  1. Tabung reaksi ( buret ) dan aquadest
  2. Rak tabung
  3. Spektrofotometer Spektronik- 21
  4. Pipet ukur
  5. Pipet volumetric
  6. Larutan Kobal – Nitrat ( yang telah ditetapkan : U1, U2, U3)

BAB II

HASIL PENGAMATAN

  1. A. PENENTUAN PANJANG GELOMBANG YANG MENUNJUKKAN SERAPAN MAKSIMUM

Hasil Percobaan :

No ∆ ( nm ) Serapan Larutan Kobal – Nitrat 1 %
1 440 0,09
2 450 0,12
3 460 0,14
4 470 0,17
5 480 0,18
6 490 0,20
7 500 0,21
8 510 0,22
9 520 0,19
10 530 0,17
11 540 0,12

Kesimpulan :

    1. Kobalt nitrat menunjukkan serapan maksimum adalah pada gelombang 510
  1. a. Bahwa tidak selamanya semakin panjang gelombangnya  semakinbesar pula serapannya karena pada panjang gelambang tertentu memiliki nilai serapan maksimum yang menjadi titik balik.
      1. Setiap zat menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu.

B.HUBUNGAN SERAPAN DENGAN KADAR ZAT DALAM LARUTAN ( HUKUM BEER – LAMBERT )

Hasil Percobaan :

NO Kadar Larutan Kobalt-Nitrat Serapan Pada λ ( A= 510 )
1 0,5% 0,10
2 1% 0,22
3 1,5% 0,23
4 2% 0,30
5 3% 0,45

Kesimpulan :

emakin tinggi kadar larutan kobalt-Nitrat maka makin tinggi pula panjang gelombang yang dihasilkan. Hal ini berarti hubungan kadar dan panjang gelombang (serapan) tergantung dari tingkat kadar larutan

C. PENENTUAN KADAR SUATU ZAT DALAM LARUTAN

Hasil Percobaan :

No Larutan Serapan Kadar  (%)
1 U1 0,11 0,55%
2 U2 0,22 1%
3 U3 0,29 1,95%

Kesimpulan:

Kadar suatu zat dalam larutan dapat diketahui dengan membandingkannya dengan kadar standar pada kurva standar. Serapan larutannya berbanding lurus dengan kadar zatnya.

BAB III

PEMBAHASAN

A. FOTOMETER

  1. 1. Pengertian

Fotometer adalah alat untuk mengukur absorbsi sinar dalam larutan.

  1. 2. Jenis fotometer

Fotometer umumnya dibedakan menurut sinar dan pembiasannya :

  • Spektrofotometer
  • Spektrolinifotometer
  • Filter Fotometer.

Spektrofotometer.

Untuk mendapatkan spectrum serapan, angka serapan (Extinction) suatu bahan harus diukur  pada panjang gelombang tertentu yang diketahui. Teknik yang dipakai menggunakan prinsip tegangan listrik yang terbebtuk pada sel fotoelektron setara dengan jumlah radiasi sinar yang mengenainya.

Sinar kontinyu  akan dibiaskan  oleh suatu prisma atau kisi-kisi, dan dengan suatu celah diafragma panjang gelombang yang diinginkan dapat diisolasi.

Keuntungan dari alat ini adalah dapat mengukur sinar dengan semua panjang gelombang terutama derah ultra violet.

Kerugian, kandang karena intensitas sinar yang sangat lemah , maka dibutuhkan penguat yang baik sekali untuk arus foto dan  ini harganya mahal.

Gangguan pada Spektrofotometer, setiap elemen fungsional dari spektrofotometer dapat menimbulkan gangguan-gangguan tersendiri yang mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terhadap pengukuran fotometris.

Jenis-Jenis Gangguan

  1. 1. Lampu yang sudah tua ,

Ini dapat mengakibatkan terutama penurunan intensitas sinar dan dengan demikian sensitifitas dari fotometer menjadi berkurang.

  1. 2. Kekeliruan penyetelan dari panjang gelombang ,

Berarti ada pergeseran dari titik berat  filter, yang dapat mengakibatkan penyimpangan pada absorbsi yang diukur dari absorbsi yang sebenarnya. Penyimpangan tersebut  dapat berupa ketinggian/kerendahan . Hal ini tergantung dari spectrum absorbsi dari larutan yang diukur.

  1. 3. Penyimpangan dari linearitas,

Terutama pada absorbsi (daerah konsentrasi) yang tinggi,pada pengukuran fotometris. Ini merupakan gangguan fotometer yang paling sering terjadi . Penyimpangan tersebut dapat  terlihat pada kurva baku dalam pengukuran  larutan standar dengan konsentrasi  yang berbeda-beda ( dari konsentrasi rendah hingga konsentrasi tinggi ). Peningkatan absorbsi tidak lagi linier  atau proporsional ( sebanding ) dengan konsentrasi. Semakin tinggi  konsentrasi larutan standar. Semakin kecil peningkatan absorbsinya. Penyimpangan linier dapat disebabkan  oleh efek kimia fisik dari larutan yang diukur dan kualitas filter atau monokhromator yang buruk menghasilkan sinar yang tidak monokhromatis.

B.  HUKUM BEER – LAMBERT

1. Hukum Lambert

Menyatakan bahwa bila cahaya monokromatik melalui suatu medium transparent , maka kecepatan penurunan intensitasnya terhadap ketebalan medium sebanding dengan intensitas cahaya tersebut atau dengan kata lain intensitas cahaya yang di emisikan akan menurun secara eksponensial bila ketebalan medium penyerap  meningkat secara aritmatik. Ini berarti setiap lapisan dari ketebalan medium penyebaran mengabsorbsi fraksi/bagian yang sama dari sinar dating yang mengenalnya

2. Hukum Beer

Beer menemukan hubungan antara konsentrasi dari suatu konsistensi berwarna yang terdapat dalam larutan dengan transmisi cahaya dan mengemukakan bahwa intensitas cahaya monokromatis akan menurun secara eksponensial bila konsentrasi substansi penyerap cahaya meningkat secara aritmatik.

3.     Hukum Beer – Lambert

Pada ketebalan medium tertentu, hubungan antara konsentrasi substansi penyerap dengan serapan atau absorbennya  merupakan garis lurus (hubungan linier) dengan kemiringan. Bila cahaya monokromatis melalui suatu larutan berwarna, jumlah cahaya yang di serap menurunkan secara eksponensial, sebanding dengan :

  • Panjang lintasan / kolom cahaya yang melalui larutan
  • Kadar zat terlarut dalam larutan yang menyerap cahaya
A     =    K  .   c  .   d

Keterangan :

A  =    Absorbens atau Extingsi

K = Koefisien penyerapan ( Extinnction ) molar dari bahan  penyerap pada panjang gelombang tertentu  ( dm3 / mol cm ).

c  =     Konsentrasi molar dari senyawa penyerap ( mol/L)

d  =     Jarak yang dilalui sinar dalam senyawa penyerap (cm)

C. MENENTUKAN KADAR SUATU ZAT DALAM LARUTAN

Dari percobaan yang dilakukan, ternyata U1, U2 dan U3 yang sebelumnya tidak diketahui dengan mengukur serapan (A.) dari larutan tersebut pada ujung gelombang maksimal dan memasukan kedalam kurva hubungan kadar dengan serapan.

Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kadar suatu zat dalam larutan dapat diketahui dengan membandingkannya dengan kadar standar pada kurva standar.

BAB IV

PENUTUP

  1. A. KESIMPULAN
    1. Serapan maksimum larutan Kobalt – Nitrat 1 % pada panjang gelombang 510 nm.
    2. Semakin tinggi konsentrasi suatu larutan, maka semakin tinggi absorben. Ini sesuai dengan Hukum Beer-Lambert yaitu jumlah cahaya  yang diserap oleh suatu zat pada gelombang tertentu sebanding dengan kadar zat tersebut dalam larutan.
    3. Kadar suatu zat dalam larutan dapat diketahui dengan memakai kurva kalibrasi dari larutan standar.

B. SARAN

  1. Untuk praktikum selanjutnya kami mohon adanya asisten yang membantu / membimbing dalam praktikum, kurang lebih satu asisten tiap kelompok.
  2. Untuk rekan-rekan mahasiswa , sebaiknya dalam praktik laboratorium saling berbagi / memberi kesempatan dalam praktikum (Penggunaan alat, observasi hasil) ini agar seluruh praktikum dapat aktif dan mengerti dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

K. Murray. 2003. “Biokimia Harper”. Edisi 25 : EGC. Jakaerta.

Kwenang, A. D,2005 “Penuntun / Laporan Biokomia Ners B”. Bagian Biokimia, FK-UNHAS. Makassar.

Prijanti, A,R, dkk.1999. “Penuntun Praktikum Biokimia Untuk Mahasiswa Keperawatan”. Widya medika, Jakarta.

Sadikin Muh., 2003, “Biokimia Enzim” : Widya Medika. Jakarta.

Anonim, Hukum Beer-Lambert, http://www.Ubaya/Mipa/Article.Com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: